Kamis, 06 September 2012

Aqidah Islam

            Mengenal Aqidah yang hak (العقيدةُ الصحيحةُ) merupakan kewajiban bagi setiap orang yang telah mengikrarkan kalimat tauhid dalam hidupnya, dimana pengertian aqidah secara terminologinya yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malakat-Nya, iman kepda Kita-kitab-Nya, iman kepada para Rasul-Nya, iman pada hari akhir dan iman pada takdir yang baik dan yang buruk. Karena aqidah yang benar yang di dalamnya juga mengandung tauhid merupakan asas atau bangunan agama serta syarat diterimanya amalan seseorang. Sebagai mana yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan dalam kitabnya Aqidatut Tauhid (عقيدة التوحيد).
فالعقيدةُ الصحيحةُ هي الأساسُ الذي يقوم عليه الدين وتَصحُّ معه الأعمال
Beliau menjelaskan dalam kitabnya bahwa ; akidah yang benar adalah fundamen (asas) bagi bangunan agama serta merupakan syarat syahnya amal.
Hal ini didasrkan pada firman Allah s.w.t berikut :                                                     
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi (18) : 110)
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar (39) : 65)
            Dan masih banyak ayat-ayat dalam al-quran yang senada dengan ayat di atas, yang menegaskan bahwa ibadah seseorang akan ditrima oleh Allah s.w.t apabila di dasari dengan akidah yang benar, yaitu di landasi dengan tauhid yang lurus dan bersih dari syirik. Oleh karena itu dalam dakwah para nabi di dahului dengan dakwah tauhid, sebagai contoh dakwah nabi akhir zaman, yaitu dakwah nabi Muhammad s.a.w, yang mana Nabi menyeru pada kaum quraisy agar menyembah Allah semata dan meninggalkan syirik sebelum beliau menyuruh untuk melakukan amalan-amalan lainnya, seperti shalat, zakat, dan amalan lainnya.
            Dari penjelasan di atas jelas bagi kita bahwa wajib hukumnya bagi kita untuk mengenal aqidah yang benar, akidah yang bebas dari keraguan dan aqidah yang berdasarkan dalil dari alquran dan hadist yang sesuai dengan pemahaman para sahabat, dan orang-oarang yang senantiasa konsisten mengikuti mereka. Karena jika hal tersebut tidak ada dalam diri kita maka sia-sialah segala amalan yang kita kerjakan dalam hidup ini. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya (QS. Al-Kahfi (18) : 110) dan ayat-ayat lain yang senada dengan ayat tersebut, dimana ayat tersebut menjelaskan bahwa segala amal ibadah akan diterima di sisi Allah s.w.t. apabila didasri dengan tauhid dan bersih dari syirik.
            Oleh karena itu, jika kita menginginkan amalan kita diterima di sisi-Nya, mendapat balasan dari-Nya, dan bertemu dengan-Nya yang merupakan nikmat paling besar dari segala nikmat, maka merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk memiliki Aqidah yang benar  (العقيدةُ الصحيحةُ). Dan satu-satunya jalan untuk mengenal, mengetahui, dan memahami aqidah yang benar ini kecuali dengan jalan ilmu, yaitu dengan cara menuntuk ilmu syar’i, khususnya ilmu tauhid. Dan merupakan suatu hal yang aneh jika seseorang yang dalam hidupnya jauh dari majlis ilmu dan menjauhi segala hal yang membantunya untuk memperoleh ilmu agama dapat memahami tentang aqidah yang benar. Seseorang yang dalam hidunpnya hanya memfokuskan untuk menuntut ilmu dunia (selain ilmu agama) sehingga tidak sempat untuk memdapat penjelasan tentang agama, maka kesesatanlah yang akan dia jalani dalam hidupnya karena tidak mengenal agama yang hak, yang murni dan tidak memahami tauhid dengan benar, dan apabila mereka menggunakan ilmu (selain ilmu agama) mereka untuk memahami tentang tauhid maka kesesatanlah yang akan mereka hadapi. Dimana kita ketahui bahwa bahwa ilmu selain ilmu agama adalah ilmu yang di peroleh dari pemikiran atau akal manusia saja, sedangkan dalam memahami agama, khususnya dalam hal tauhid harus berdasarkan dalail (tauqifiyah), artinya tidak bisa di tetapkan kecuali dengan dalil syar’i.
            Ali r.a. berkata, jika agama itu di tetapkan berdasarkan akal manusia, niscaya mengusap  khuf (sepatu) itu pada bagian bawahnya.
            Iman Tirmidzi dalam musnadnya menyebutkan sebuaha hadist bahwa salah satu cara meraih surga Allah yaitu dengan ilmu.
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من سلك طريقا يلتمس به علما سهل الله له طريقا إلى الجنة

Artinya “Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Maka Allah memudhkan baginya jalan ke surge”. (HR. Tirmidzi (sunan at-tirmidzi hal 28, dishahihkan oleh syaikh Al-bani).
            Oleh karena itu selain kita serius dalam menuntut ilmu dunia, maka kita juga harus serius dalam menuntut ilmu agama (syar’i), karena dengan jalan menuntut ilmu syar’i akan membantu kita untuk mengenal Allah, mengenal agama, mengenal Rasul-Nya. (Wallahua’lam bisshawab).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar