Baitullah

Allahu Akbar...!!!

Peran Pemuda Dalam Perjalanan Dakwah

peran pemuda sangatlah penting. Bisa kita lihat ke masa lalu, saat Nabi hijrah ke Madinah, yang menyambutnya pertama kali adalah para pemuda.

Do'a Sebelum Tidur

Selalu berharap perlindungan dari Allah ketika tidur dan mengikuti sunnah Rosul dengan membaca do'a sebelum tidur.

dengan Asma-Mu dan Ibadahku Aku dapatkan sebuah kebahagiaan hidup sampai akhir nanti.

perbanyaklah melakukan ibadah untuk bekal di hari akhir kelak.

Selasa, 06 November 2012

Meraih Surga Dengan Cinta


            Al-hub ((الحب, yang artinya cinta merupakan salah satu amalan hati, yang apabila amalan tersebut kita curahkan untuk Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang senantiasa komitmen terhadap agama-Nya, maka kabar gemabira buatnya, yaitu kelak di akhirat bersama Rasulullah s.a.w. sebagaimana hadist berikut :
عَنْ أَنَسٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ، عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ : لاَ شَيْءَ إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا   فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Artinya “ Dari Anas Bin Malik r.a , seorang laki-laki (orang arab Badui) bertanya kepada rasulullah s.a.w tentang hari kiamat, dia berkata kapan hari kiamat ya Rasulullah. Rasulullah s.a.w. bersabda : Apa yang telah kamu siapkan untuk menghadapi hari kiamat tersebut?. Kemudian laki-laki tadi menjawab, tidak banyak persiapanku, hanya satu aku mencintai Allah dan Rasulnya. Maka Rasulullah s.a.w. menjawab “Engkau nanti akan dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai”. Anas Bin Malik r.a berkata ; Maka kami tidak pernah merasakan kegembiraan seperti gembiranya kami setelah mendengarkan sabda Rasulullah s.a.w  “engkau bersama orang yang engaku cintai” .  kemudian Anas bin Malik r.a berkara lagi maka aku mencintai Rasul s.a.w. Abu Bakar r.a, Umar r.a, dan aku berharap Allah mengumpulkan aku bersama mereka di surga nanti dengan kecintaanku kepada mereka meskipun aku belum bisa mengamalkan amalan seperti amalan yang merekalakukan. (HR. Bukhori (dalam kitab shahi bukhori. hal 14-15)
            Akan tetapi haruslah kita ketahui, seperti apakah itu cinta kepada Alah dan Rasul-Nya, karena kebanyakan manusia mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi hakekatnya mereka menetang mereka, Sehingga ucapan mereka adalah ucapan yang dusta.
            Adapun kedudukan dan ta’rif (arti) dari hakekat cinta pada cinta kepada Allah yaitu sebagaimana yang telah di jelaskan dalam firman-Nya :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya  “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘imron (3) : 31).
syaikh Abdurrahman bin Nasir As-sa’di menafsirkan ayat di atas. Beliau berkata ayat ini menjelaskan tentang wajibnya mencintai Allah, tanda-tandanya, perolehan serta buah dari cinta pada-Nya. Yang mana cinta kepada Allah mempunyai kedudukan yang tinggi, dan harus di atas yang lainn-Nya, termasuk cinta pada dirinya sendiri, serta tidak cukup hanya dengan pengakuan saja, akan tetapi harus disertai degan ketulusan. Tanda-tanda tulusnya cinta seseorang kepada Allah yaitu ittiba’ (mengikuti) Rasulullah s.a.w dalam segala aspek, yaitu mengikuti Rasul dalam ucapan maupun perbuatan, mengikuti Rasul dalam dasar-dasar agama serat cabang-cabangnya, dan  mengikuti Rasul lahir maupun batin. Barangsiapa yang ittiba’ kepada Rasul menunjukkan ketulusan cinta kepada Allah, dan Allah akan mengampuni dan menguatkan dalam gerak maupun diamnya disebabkan cintanya pada Allah. Dan barangsiapa yang tidak ittiba’ pada Rasul maka apa yang dia nyatakan adalah dusta, karena mengikuti Rasul merupakan syarat ketulusan cinta pada Allah.
            sedangkan kedudukan dan ta’rif (pengertian)  cinta kepada Rasulullah s.a.w  dijelaskan dalam sebuat hadist berikut :
وعن أنس رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : [ لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين ] أخرجاه أي البخاري ومسلم

Artinya “Tidak sempurna iman sesorang sampai dia mencintaiku melebih cintanya pada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia. (HR.Bukori Muslim)
Bahkan di hadist lain yang di riwayatkan oleh Umar r.a cinta pada Rasul harus melebihi cinta pada dirinya sendiri. Dan di jelaskan dalam kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid bahwa seseorang yang tidak ber-Ittiba’ pada Rasulullah maka cinta pada Rasulullah adalah dusta, dengan dalil berikut :
šوَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ  
Artinya “dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan Kami mentaati (keduanya)." kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-nur (24) :47)
            Jadi untuk meraih surga dengan cinta yaitu dengan mengarahkan rasa cinta kita kepada Allah dan Rasulullah, dengan cara ber-Ittiba’ (mengikuti) Rasul dalam segala aspek kehidupan, baik dalam bernegara, bermasyarakat berkeluarga bahkan dalam segala tindakan yang kita lakukan, sehingga kelak kita di akherat bisa mendapat syafaatnya dan berjumpa dengan-Nya di surga. Akan tepai jika kita menjauhi hal tersebut (ittiba’), bahkan mengikuti musuh-musuh Allah (orang kafir) dalam menjalani hidup ini, maka lihatlah hidupnya yang tidak pernah merasakan kesenagan dlam beribadah kepadanya, dan kelak dia juga tidak akan mendapatkan kesenagan (surga). Sebagai mana yang dikatakan oleh Ibnu Taymiyyah.
"إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخرة"
Sesungguhnya di dunia ini ada surga (kekhusyu’an dalam beribadah), barangsiapa yang belum menadaptkannya maka dia tidak akan masuk di dalam surga nanti.



readmore »»  

MA’RIFATULLAH



Ma’rifatullah (mengenal Allah) merupakan suatu hal yang sangat penting bagi setiap manusia sebagai hambAnya,  akan tetapi harus kita ketahui bahwa Ma’rifatullah disini bukanlah mengenal Dzat-Nya, karena tidak mungkin bagi manusia yang dengan kemampuan yang terbatas dapat mengenal Dzat-Nya. Menurut Ibnu Al Qayyim : Ma’rifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul ma’rifah (orang-orang yang mengenali Allah)  adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya”.
Dengan mengenal Allah seseorang akan mengenal dirinya sendiri, orang yang mengenal Allah, ia akan memahami hakekat kehidupannya. Oleh karenanya ia tidak akan mudah silau dan tertipu oleh kemilaunya kehidupan dunia. Allah berfirman (QS. 51:56) mengenai tujuan hidup manusia di dunia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. 51:56)
Beriman kepada dapat kita capai dengan menegakkan tauhid dalam diri, yaitu dengan mensucikan dan memurnikan diri dari syirik dan. Para Ulama salaf membagi tauhid menjadi tiga, yaitu :
1.       Beriman pada Rububiyyah Allah
Setelah sesorang percaya tentang wujud nya Allah atau adanya Allah, maka dia harus percaya bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu, Dia-lah Maha Pencipta, Dia-lah yang mengatur dan yang menjalankannya. Dialah yang Menciptakan para hamba, yang memeberi rezeki kepada mereka, menghidupkan dan mematikannya.  Seseorang yang sudah memepunyai keyakinan seperti itu maka dia sudah dikatakan bertauhid Rububiyyah. Tauhid ini sangat banyak dalilnya dalam Al-quran, salah satunya, yaitu :
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya “Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Addzariyyat : 58)
Jika seseorang sudah melakukan hal tersebut maka sudah dikatakan bertauhid rububiyya, tauhid rububiyya bisa disebut juga mentauhidkan Allah dalm perbuatan-Nya, seperti pencipta, pengatur, dll.
2.  Beriman Pada Uluhiyyah Allah
Yaitu mengesakan Allah Ta’ala melalui perbuatan para hamba, dinamakan juga dengan tauhid ibadah. Artinya keyakinan yang pasti bahwa Allah s.w.t. : Ilah (sesembhan) yang hak dan tidak ada sesembahan selain-Nya, segalah yang di ibadahi selainnya dalah bathil, hanya Dia-lah yang patut di ibadahi, bagi-Nya kedudukan dan ketaatan secara mutlak. Tidak boleh siapapun dijadikan sekutu bagi-Nya, dan tidak boleh segala bentuk ibadah diperuntukkan pada selan-Nya, seperti shalat, zakat, haji, doa, rasa takut, harap,dll. Tauhid ini sangat banyak dalilnya dalam Al-quran, salah satunya, yaitu :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ                                                                
Artinya “Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Al-Fatihah :5)
Seseorang sudah dikatakan bertauhid uluhiyyah dengan baik apabila pengamalan pemahaman dan pengamalan syahadatainnya bagus, yaitu menafikan (meniadakan) segala sesembahan dan menetapkan bahwa hanya Allah semata yang berhak di ibadahi dengan di iringi rasa khauf, malu dan raja’, serta menjalankan koseskuensi dari pada syahadatain dengan baik dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan dalam segala aktifitasnya, khususnya dalam beribadah, tidak menambah syariat yang dibawanya dan tidak pula menguranginya walau hanya sedikit.

3.  Beriman pada Asma’ Wasifat
Yaitu keyakinan yang pasti bahwa Allah s.w.t. mempunyai Asmaul Husna (nama-nama baik), dia memunyai sifat-siafat yang mulia. Dia memiliki sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan . Dia-lah Yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut, tidak dimiliki oleh mahluknya.
Ahlus Sunnah Waljama’ah : Mensifati Allah dengan sifat-sifat yang ada dala Alquran maupun dalam hadist. Adapun ayat Alquran tentang sifat Allah, yaitu :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا…… 
Artinya “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya… (QS. Al-A’raf : 180)

readmore »»  

Kisah Agung Tentang Calon Penghuni surga



عن عطَاء بن أبي رَباحٍ ، قَالَ : قَالَ لي ابنُ عَباسٍ رضي اللهُ عنهما : ألاَ أُريكَ امْرَأةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّة ؟ فَقُلْتُ: بَلَى ، قَالَ : هذِهِ المَرْأةُ السَّوداءُ أتتِ النَّبيَّ - صلى الله عليه وسلم - ، فَقَالَتْ : إنّي أُصْرَعُ ، وإِنِّي أتَكَشَّفُ ، فادْعُ الله تَعَالَى لي . قَالَ : (( إنْ شئْتِ صَبَرتِ وَلَكِ الجَنَّةُ ، وَإنْ شئْتِ دَعَوتُ الله تَعَالَى أنْ يُعَافِيكِ )) فَقَالَتْ : أَصْبِرُ ، فَقَالَتْ : إنِّي أتَكَشَّفُ فَادعُ الله أنْ لا أَتَكَشَّف ، فَدَعَا لَهَا. متفقٌ عليه.
Dari 'Atha' bin Abu Rabah, dia berkata: "Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma mengatakan kepadaku: "Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?" Saya berkata: "Baiklah." Ia berkata lagi: "Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Sesungguhnya saya ini terkena penyakit ayan dan ketika penyakit tersebut kambul tersingkaplah sebagian aurat tubuhku. Oleh kerananya berdoalah kepada Allah untuk ku- agar saya sembuh." Beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau mau bersabar bersabar maka balasan untukmu syurga, tetapi jikalau engkau ingin sembuh, maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta'ala agar penyakitmu itu disembuhkan oleh-Nya." Wanita itu lalu berkata: "Saya memilih untuk bersabar," lalu katanya pula: "Sesungguhnya kerana penyakit itu, tersingkaplah sebagian aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah gerangan mendoakan saya kepada Allah agar ketika penyakit saya kambuh, aurat saya tidak tersingkap." lalu Nabi s.a.w. mendoakan untuknya - sebagaimana yang dikehendakinya itu." (Muttafaq 'alaih)

    Hadist di atas merupakan salah satu hadist yang dikatakan oleh ulama sebagai kisah  terindah tentang sifat malu, selain itu haidits ini adalah salah satu hadist yang dimasukkan ke dalam bab kesabaran oleh Iman An-Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya yang terkenal di berbagai kalangan umat islam, yaitu Riyadusshalihin.
  Dari hadits di atas terdapat tiga faedah besar yang sangat penting untuk kita jadikan pelajaran dan renunagan, dimana pelajaran tersebut yaitu :
1.    Pentingnya Sifat Malu
Sesunggunya kisah wanita di atas merupakan salah satu kisah yang agung, yang menjelaskan tentang kemuliaan aklaknya, yang mana sifat yang mulia tersebut seharusnya dimiliki oleh setiap wanita.  ia berkata berkata: "Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu tersingkaplah sebagian aurat tubuhku. Oleh kerananya berdoalah kepada Allah untuk ku- agar saya sembuh. Ketika Rasulullah memberinya pilihan antara kesembuhan dan kesabaran padanya, dia memilih kesabaran, akan tetapi karena sifat malu yang dimiliki oleh wanita itu ia meminta kepada Rasulullah untuk mendoakannya sekali lagi, yaitu ia berharap ketika  penyakitnya kambul tidak tersipkap sebagian auratnya. Hal ini menunjukkan begitu pahamnya wanita tersebut akan pentingnya menjaga aurat dan sifat malu yang dimilikinya begitu agung, yang mana meskipun seandainya hal tersebut terus terjadi, yaitun terbukanya sebagian aurat ketika penyakitnya kambul, maka tidaklah dosa baginya karena hal tersebut merupakan suatu hal yang diluar kesadarannya, tetapi ia tetap meminta kepada Rasulullah agar hal tersebut tidak terjadi ketika penyakitnya kambuh, sifat malu seperti inilah yang sulit kita temui pada wanita di zaman ini, yaitu wanita yang takut auratnya terlihat oleh orang lain. akan tetapi kita temui wanita sekarang merasa senang, bahagia dan puas jika laki-laki yang bukan mahramya melihat auratnya, bahkan kita mendapati sebagian wanita muslimah memakai pakaian yang minim sehingga bgian yang terbuka lebih banyak dari yang ia tutupi (na’dzubillahi min dzalik), tidakkah ia takut azab Alla, tidakkah ia sadar bahwa dia akan dibangkitakan setelah kematiannya dan ditanyakan tentang perbuatannya tersebut, dan ketahuilah wahai wanita muslimah bahwa Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan tentang keadaan orang yang memperllihatkan auratnya, yaitu dia tidak akan mencium bau surga. Coba lihatlah wanita di atas, dia malu auratnya tersingkap, yang kemungkian yang tersingkap darinya hanya sebagin kecil dari tubuhnya, akan tetapi wanita muslimah sekarang tidaklah merasa malu meski auratnya terbuka, dan berpakaian yang tidak sesuai dengan apa yang di ridoi Allah dan Rasul-Nya.
2.    Bertawassul (mengambil peranara)
Cerita diatas merupakan dalil bagi kita tentang bolehnya bertawassul (mengambil perantara) kepada orang shaleh yang hadir di hadapan kita yaitu meminta kepada orang shaleh tersebut untuk mendoakannya kepada Allah agar keinginannya dipenuhi oleh Allah. Adapun tawassul terhadap orang yang sudah meningggal atau tidak hadir dihadapan kita dengan mengatakan “ Yaa syaik fulan……, ya kyai fulan,,,,,ya wali fulan…..” maka hal ini merupakan kesyirikan yang sangat dibenci oleh Allah dan dapat membawa pelakunya ke dalam neraka, karena orang tersebut sudah mengira bahwa Syaiknya atau Kyai-nya dapat mengetahui hal yang ghaib, yaitu dapat mendengar perkataanya dari dalam kubur atau dari temapat yang jauh dari si peminta, padahal dalam al-quran maupun hadist sudah dijelaskan bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa mendengar doa mereka. Dan kalau memang hal tersebut benar yaitu boleh bertawassul terhadap orangyang  sudah meninggal maka tentulah samapai kepada kita hadits atau kisah sahabat yang bertawassul kepada rasulullah setelah matinya beliau. Bacalah cerita Umur bin Khattab yang mana ketika pada masa beliau ditimpa kekeringan, dia dan para sahabat lainnya tidak datang ke kuburan Rasulullah, tetapi mereka berdoa kepada Allah. Apakah kita merasa lebih pintar dari umar tentang agama ini?, sehingga Umar tidak datang ke makan rasulullah dan berdoa “ ya….Rasulullah……”.jelaslah wahai saudar, bahwa hal ini merupakan suatu hal yang mungkar.
3.    Kesabaran
      Kesabaran merupakan suatu hal yang sangat mulia di sisi Allah, dimana ketika kita sabar, baik sabar terhadap musibah, sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah, dan sabar dalam menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah meski itu membuat hatinya senang. Dan hadist di atas menceritakan tentang kesabaran seorang wanita yang terkena penyakit, dan ketika di tawari Rasulullah antara kesembuhan dan kesabaran, dia memilih kesabaran, karena dengang kesabaran maka jaminan suraga baginya. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal ini yaitu hendaknya dalam bersabar semata-mata karena Allah, dan ujian yang ia terima merupakan kehendak Allah. (wallahua’lambisshawab)
readmore »»