Baitullah

Allahu Akbar...!!!

Peran Pemuda Dalam Perjalanan Dakwah

peran pemuda sangatlah penting. Bisa kita lihat ke masa lalu, saat Nabi hijrah ke Madinah, yang menyambutnya pertama kali adalah para pemuda.

Do'a Sebelum Tidur

Selalu berharap perlindungan dari Allah ketika tidur dan mengikuti sunnah Rosul dengan membaca do'a sebelum tidur.

dengan Asma-Mu dan Ibadahku Aku dapatkan sebuah kebahagiaan hidup sampai akhir nanti.

perbanyaklah melakukan ibadah untuk bekal di hari akhir kelak.

Selasa, 06 November 2012

Kisah Agung Tentang Calon Penghuni surga



عن عطَاء بن أبي رَباحٍ ، قَالَ : قَالَ لي ابنُ عَباسٍ رضي اللهُ عنهما : ألاَ أُريكَ امْرَأةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّة ؟ فَقُلْتُ: بَلَى ، قَالَ : هذِهِ المَرْأةُ السَّوداءُ أتتِ النَّبيَّ - صلى الله عليه وسلم - ، فَقَالَتْ : إنّي أُصْرَعُ ، وإِنِّي أتَكَشَّفُ ، فادْعُ الله تَعَالَى لي . قَالَ : (( إنْ شئْتِ صَبَرتِ وَلَكِ الجَنَّةُ ، وَإنْ شئْتِ دَعَوتُ الله تَعَالَى أنْ يُعَافِيكِ )) فَقَالَتْ : أَصْبِرُ ، فَقَالَتْ : إنِّي أتَكَشَّفُ فَادعُ الله أنْ لا أَتَكَشَّف ، فَدَعَا لَهَا. متفقٌ عليه.
Dari 'Atha' bin Abu Rabah, dia berkata: "Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma mengatakan kepadaku: "Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?" Saya berkata: "Baiklah." Ia berkata lagi: "Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Sesungguhnya saya ini terkena penyakit ayan dan ketika penyakit tersebut kambul tersingkaplah sebagian aurat tubuhku. Oleh kerananya berdoalah kepada Allah untuk ku- agar saya sembuh." Beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau mau bersabar bersabar maka balasan untukmu syurga, tetapi jikalau engkau ingin sembuh, maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta'ala agar penyakitmu itu disembuhkan oleh-Nya." Wanita itu lalu berkata: "Saya memilih untuk bersabar," lalu katanya pula: "Sesungguhnya kerana penyakit itu, tersingkaplah sebagian aurat tubuh saya. Kalau begitu sudilah gerangan mendoakan saya kepada Allah agar ketika penyakit saya kambuh, aurat saya tidak tersingkap." lalu Nabi s.a.w. mendoakan untuknya - sebagaimana yang dikehendakinya itu." (Muttafaq 'alaih)

    Hadist di atas merupakan salah satu hadist yang dikatakan oleh ulama sebagai kisah  terindah tentang sifat malu, selain itu haidits ini adalah salah satu hadist yang dimasukkan ke dalam bab kesabaran oleh Iman An-Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya yang terkenal di berbagai kalangan umat islam, yaitu Riyadusshalihin.
  Dari hadits di atas terdapat tiga faedah besar yang sangat penting untuk kita jadikan pelajaran dan renunagan, dimana pelajaran tersebut yaitu :
1.    Pentingnya Sifat Malu
Sesunggunya kisah wanita di atas merupakan salah satu kisah yang agung, yang menjelaskan tentang kemuliaan aklaknya, yang mana sifat yang mulia tersebut seharusnya dimiliki oleh setiap wanita.  ia berkata berkata: "Sesungguhnya saya ini terserang oleh penyakit ayan dan oleh sebab itu tersingkaplah sebagian aurat tubuhku. Oleh kerananya berdoalah kepada Allah untuk ku- agar saya sembuh. Ketika Rasulullah memberinya pilihan antara kesembuhan dan kesabaran padanya, dia memilih kesabaran, akan tetapi karena sifat malu yang dimiliki oleh wanita itu ia meminta kepada Rasulullah untuk mendoakannya sekali lagi, yaitu ia berharap ketika  penyakitnya kambul tidak tersipkap sebagian auratnya. Hal ini menunjukkan begitu pahamnya wanita tersebut akan pentingnya menjaga aurat dan sifat malu yang dimilikinya begitu agung, yang mana meskipun seandainya hal tersebut terus terjadi, yaitun terbukanya sebagian aurat ketika penyakitnya kambul, maka tidaklah dosa baginya karena hal tersebut merupakan suatu hal yang diluar kesadarannya, tetapi ia tetap meminta kepada Rasulullah agar hal tersebut tidak terjadi ketika penyakitnya kambuh, sifat malu seperti inilah yang sulit kita temui pada wanita di zaman ini, yaitu wanita yang takut auratnya terlihat oleh orang lain. akan tetapi kita temui wanita sekarang merasa senang, bahagia dan puas jika laki-laki yang bukan mahramya melihat auratnya, bahkan kita mendapati sebagian wanita muslimah memakai pakaian yang minim sehingga bgian yang terbuka lebih banyak dari yang ia tutupi (na’dzubillahi min dzalik), tidakkah ia takut azab Alla, tidakkah ia sadar bahwa dia akan dibangkitakan setelah kematiannya dan ditanyakan tentang perbuatannya tersebut, dan ketahuilah wahai wanita muslimah bahwa Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan tentang keadaan orang yang memperllihatkan auratnya, yaitu dia tidak akan mencium bau surga. Coba lihatlah wanita di atas, dia malu auratnya tersingkap, yang kemungkian yang tersingkap darinya hanya sebagin kecil dari tubuhnya, akan tetapi wanita muslimah sekarang tidaklah merasa malu meski auratnya terbuka, dan berpakaian yang tidak sesuai dengan apa yang di ridoi Allah dan Rasul-Nya.
2.    Bertawassul (mengambil peranara)
Cerita diatas merupakan dalil bagi kita tentang bolehnya bertawassul (mengambil perantara) kepada orang shaleh yang hadir di hadapan kita yaitu meminta kepada orang shaleh tersebut untuk mendoakannya kepada Allah agar keinginannya dipenuhi oleh Allah. Adapun tawassul terhadap orang yang sudah meningggal atau tidak hadir dihadapan kita dengan mengatakan “ Yaa syaik fulan……, ya kyai fulan,,,,,ya wali fulan…..” maka hal ini merupakan kesyirikan yang sangat dibenci oleh Allah dan dapat membawa pelakunya ke dalam neraka, karena orang tersebut sudah mengira bahwa Syaiknya atau Kyai-nya dapat mengetahui hal yang ghaib, yaitu dapat mendengar perkataanya dari dalam kubur atau dari temapat yang jauh dari si peminta, padahal dalam al-quran maupun hadist sudah dijelaskan bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa mendengar doa mereka. Dan kalau memang hal tersebut benar yaitu boleh bertawassul terhadap orangyang  sudah meninggal maka tentulah samapai kepada kita hadits atau kisah sahabat yang bertawassul kepada rasulullah setelah matinya beliau. Bacalah cerita Umur bin Khattab yang mana ketika pada masa beliau ditimpa kekeringan, dia dan para sahabat lainnya tidak datang ke kuburan Rasulullah, tetapi mereka berdoa kepada Allah. Apakah kita merasa lebih pintar dari umar tentang agama ini?, sehingga Umar tidak datang ke makan rasulullah dan berdoa “ ya….Rasulullah……”.jelaslah wahai saudar, bahwa hal ini merupakan suatu hal yang mungkar.
3.    Kesabaran
      Kesabaran merupakan suatu hal yang sangat mulia di sisi Allah, dimana ketika kita sabar, baik sabar terhadap musibah, sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah, dan sabar dalam menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah meski itu membuat hatinya senang. Dan hadist di atas menceritakan tentang kesabaran seorang wanita yang terkena penyakit, dan ketika di tawari Rasulullah antara kesembuhan dan kesabaran, dia memilih kesabaran, karena dengang kesabaran maka jaminan suraga baginya. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal ini yaitu hendaknya dalam bersabar semata-mata karena Allah, dan ujian yang ia terima merupakan kehendak Allah. (wallahua’lambisshawab)
readmore »»  

Minggu, 16 September 2012

Terjemahan Al-Qur'an

terjemahan A-Qur'an merupakan software yang berisi tentang terjemahan atau arti alqur'an. pada software ini bisa dicari dengan cepat surat, juzz atau kosa kata dalam Al-Qur'an terjemahan ini. yang ingin download silahkan..gratis !!! dijamin bermanfaat.

http://indrarukmana.files.wordpress.com/2009/08/terjemahan-alquran.jpg 



readmore »»  

Kamis, 06 September 2012

Aqidah Islam

            Mengenal Aqidah yang hak (العقيدةُ الصحيحةُ) merupakan kewajiban bagi setiap orang yang telah mengikrarkan kalimat tauhid dalam hidupnya, dimana pengertian aqidah secara terminologinya yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malakat-Nya, iman kepda Kita-kitab-Nya, iman kepada para Rasul-Nya, iman pada hari akhir dan iman pada takdir yang baik dan yang buruk. Karena aqidah yang benar yang di dalamnya juga mengandung tauhid merupakan asas atau bangunan agama serta syarat diterimanya amalan seseorang. Sebagai mana yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan dalam kitabnya Aqidatut Tauhid (عقيدة التوحيد).
فالعقيدةُ الصحيحةُ هي الأساسُ الذي يقوم عليه الدين وتَصحُّ معه الأعمال
Beliau menjelaskan dalam kitabnya bahwa ; akidah yang benar adalah fundamen (asas) bagi bangunan agama serta merupakan syarat syahnya amal.
Hal ini didasrkan pada firman Allah s.w.t berikut :                                                     
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi (18) : 110)
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar (39) : 65)
            Dan masih banyak ayat-ayat dalam al-quran yang senada dengan ayat di atas, yang menegaskan bahwa ibadah seseorang akan ditrima oleh Allah s.w.t apabila di dasari dengan akidah yang benar, yaitu di landasi dengan tauhid yang lurus dan bersih dari syirik. Oleh karena itu dalam dakwah para nabi di dahului dengan dakwah tauhid, sebagai contoh dakwah nabi akhir zaman, yaitu dakwah nabi Muhammad s.a.w, yang mana Nabi menyeru pada kaum quraisy agar menyembah Allah semata dan meninggalkan syirik sebelum beliau menyuruh untuk melakukan amalan-amalan lainnya, seperti shalat, zakat, dan amalan lainnya.
            Dari penjelasan di atas jelas bagi kita bahwa wajib hukumnya bagi kita untuk mengenal aqidah yang benar, akidah yang bebas dari keraguan dan aqidah yang berdasarkan dalil dari alquran dan hadist yang sesuai dengan pemahaman para sahabat, dan orang-oarang yang senantiasa konsisten mengikuti mereka. Karena jika hal tersebut tidak ada dalam diri kita maka sia-sialah segala amalan yang kita kerjakan dalam hidup ini. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya (QS. Al-Kahfi (18) : 110) dan ayat-ayat lain yang senada dengan ayat tersebut, dimana ayat tersebut menjelaskan bahwa segala amal ibadah akan diterima di sisi Allah s.w.t. apabila didasri dengan tauhid dan bersih dari syirik.
            Oleh karena itu, jika kita menginginkan amalan kita diterima di sisi-Nya, mendapat balasan dari-Nya, dan bertemu dengan-Nya yang merupakan nikmat paling besar dari segala nikmat, maka merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk memiliki Aqidah yang benar  (العقيدةُ الصحيحةُ). Dan satu-satunya jalan untuk mengenal, mengetahui, dan memahami aqidah yang benar ini kecuali dengan jalan ilmu, yaitu dengan cara menuntuk ilmu syar’i, khususnya ilmu tauhid. Dan merupakan suatu hal yang aneh jika seseorang yang dalam hidupnya jauh dari majlis ilmu dan menjauhi segala hal yang membantunya untuk memperoleh ilmu agama dapat memahami tentang aqidah yang benar. Seseorang yang dalam hidunpnya hanya memfokuskan untuk menuntut ilmu dunia (selain ilmu agama) sehingga tidak sempat untuk memdapat penjelasan tentang agama, maka kesesatanlah yang akan dia jalani dalam hidupnya karena tidak mengenal agama yang hak, yang murni dan tidak memahami tauhid dengan benar, dan apabila mereka menggunakan ilmu (selain ilmu agama) mereka untuk memahami tentang tauhid maka kesesatanlah yang akan mereka hadapi. Dimana kita ketahui bahwa bahwa ilmu selain ilmu agama adalah ilmu yang di peroleh dari pemikiran atau akal manusia saja, sedangkan dalam memahami agama, khususnya dalam hal tauhid harus berdasarkan dalail (tauqifiyah), artinya tidak bisa di tetapkan kecuali dengan dalil syar’i.
            Ali r.a. berkata, jika agama itu di tetapkan berdasarkan akal manusia, niscaya mengusap  khuf (sepatu) itu pada bagian bawahnya.
            Iman Tirmidzi dalam musnadnya menyebutkan sebuaha hadist bahwa salah satu cara meraih surga Allah yaitu dengan ilmu.
عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من سلك طريقا يلتمس به علما سهل الله له طريقا إلى الجنة

Artinya “Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Maka Allah memudhkan baginya jalan ke surge”. (HR. Tirmidzi (sunan at-tirmidzi hal 28, dishahihkan oleh syaikh Al-bani).
            Oleh karena itu selain kita serius dalam menuntut ilmu dunia, maka kita juga harus serius dalam menuntut ilmu agama (syar’i), karena dengan jalan menuntut ilmu syar’i akan membantu kita untuk mengenal Allah, mengenal agama, mengenal Rasul-Nya. (Wallahua’lam bisshawab).
readmore »»